Tulisan-tulisan yang ada di blog ini berasal dari beberapa hasil copy dari tulisan orang-orang, bukan mengenai plagiat tapi bener-bener copy. Maaf yah penulis tapi aku cantumkan kok, jadi tidak mengakui bahwa itu tulisanku. Yah aku tak mau mengakui kok, jelas-jelas bukan hasi karyaku. Ini hanya sebagai pengingatku, sebagai motivasiku, sebagai inspirasiku, aku sangat-sangat berterima kasih kepada engkau yang tulisannya kumasukkan dalam blog ini.
Jadi teringat beberapa hari yang lalu mengikuti workshop kepenulisan yah intinya itu berkaryalah, jangan takut salah tidak apa-apa salah yang pastinya curang (red jujur), sepulang dari workshop tersebut eh buka email ada tulisan yang dikirimkan sama dosen di milis minat fisiologi (yah alhmdulillah diberi kesempatan bergabung dengan mereka para fisiologi) lah ini kemana yah, kembali ke inti bahwa jujurlah, ketika engkau mempublikasikan dan menjelaskan panjang lebar di depan umum namun data-data yang digunakan tidak asli, sesungguhnya ada Allah yang melihatmu, maka jujurlah dalam menulis. Beberapa tahun yang lalu menonton sebuah film barat entah judulnya apa hanya melihat sekilas dalam film itu menceritakan ada komunitas yang memiliki kreativitas yang sangat tinggi dalam berkarya membuat iklan di TV, hingga ada pihak PH tidak mau dikalahkan dengan karya-karyanya maka si PH ini membuat kasus kalau komunitas itu mengalami gangguan jiwa hingga dimasukkanlah ke RS Jiwa dan semua dalam satu kamar, mereka di dalam RS Jiwa ttersebut dipaksa oleh PH ini untuk membuat iklan yang bisa menarik penonton, apa yang membuat karya komunitas itu diterima oleh masyarakat karena mereka memegang prinsip buat iklan itu harus Jujur yah jujur mengenalkan seperti apa sebenarnya produk yang akan di promosikan tersebut. Yah jujur demikian juga perintah Allah untuk menganjurkan kita untuk jujur, seperti yang dimiliki oleh rasulullah. sudah dulu ah tulisan ngawur. aduh kayanya ngawur banget nich. aaah tutup mata maluuu..
Senin, 13 Oktober 2014
Obat Penenang Jiwa
Segala puji untuk Allah, Yang telah menurunkan al-Qur’an sebagai petunjuk dan obat bagi hamba-hamba yang beriman. Salawat dan salam semoga tercurahkan kepada Imam orang-orang yang bertakwa, yang telah menguraikan ayat-ayat-Nya kepada segenap umatnya. Amma ba’du.
Saudaraku, sudah menjadi tabiat manusia bahwa mereka menyukai sesuatu yang bisa menyenangkan hati dan menentramkan jiwa mereka. Oleh sebab itu, banyak orang rela mengorbankan waktunya, memeras otaknya, dan menguras tenaganya, atau bahkan kalau perlu mengeluarkan biaya yang tidak kecil jumlahnya demi meraih apa yang disebut sebagai kepuasan dan ketenangan jiwa. Namun, ada sebuah fenomena memprihatinkan yang sulit sekali dilepaskan dari upaya ini. Seringkali kita jumpai manusia memakai cara-cara yang dibenci oleh Allah demi mencapai keinginan mereka.
Ada di antara mereka yang terjebak dalam jerat harta. Ada yang terjebak dalam jerat wanita. Ada yang terjebak dalam hiburan yang tidak halal. Ada pula yang terjebak dalam aksi-aksi brutal atau tindak kriminal. Apabila permasalahan ini kita cermati, ada satu faktor yang bisa ditengarai sebagai sumber utama munculnya itu semua. Hal itu tidak lain adalah karena manusia tidak lagi menemukan ketenangan dan kepuasan jiwa dengan berdzikir dan mengingat Rabb mereka.
Padahal, Allah ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam ayat (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan hati mereka bisa merasa tentram dengan mengingat Allah, ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah maka hati akan merasa tentram.” (QS. ar-Ra’d: 28).
Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa pendapat terpilih mengenai makna ‘mengingat Allah’ di sini adalah mengingat al-Qur’an. Hal itu disebabkan hati manusia tidak akan bisa merasakan ketentraman kecuali dengan iman dan keyakinan yang tertanam di dalam hatinya. Sementara iman dan keyakinan tidak bisa diperoleh kecuali dengan menyerap bimbingan al-Qur’an (lihat Tafsir al-Qayyim, hal. 324)
Ibnu Rajab al-Hanbali berkata, “Dzikir merupakan sebuah kelezatan bagi hati orang-orang yang mengerti.” Demikian juga Malik bin Dinar mengatakan, “Tidaklah orang-orang yang merasakan kelezatan bisa merasakan sebagaimana kelezatan yang diraih dengan mengingat Allah.” (lihat Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 562).
Sekarang, yang menjadi pertanyaan kita adalah; mengapa banyak di antara kita yang tidak bisa merasakan kelezatan berdzikir sebagaimana yang digambarkan oleh para ulama salaf. Sehingga kita lebih menyukai menonton sepakbola daripada ikut pengajian, atau lebih suka menikmati telenovela daripada merenungkan ayat-ayat-Nya, atau lebih suka berkunjung ke lokasi wisata daripada memakmurkan rumah-Nya.
Perhatikanlah ucapan Rabi’ bin Anas berikut ini, mungkin kita akan bisa menemukan jawabannya. Rabi’ bin Anas mengatakan sebuah ungkapan dari sebagian sahabatnya, “Tanda cinta kepada Allah adalah banyak berdzikir/mengingat kepada-Nya, karena sesungguhnya tidaklah kamu mencintai apa saja kecuali kamu pasti akan banyak-banyak menyebutnya.” (lihat Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 559). Ini artinya, semakin lemah rasa cinta kepada Allah dalam diri seseorang, maka semakin sedikit pula ‘kemampuannya’ untuk bisa mengingat Allah ta’ala. Hal ini secara tidak langsung menggambarkan kondisi batin kita yang begitu memprihatinkan, walaupun kondisi lahiriyahnya tampak baik-baik saja. Aduhai, betapa sedikit orang yang memperhatikannya! Ternyata, inilah yang selama ini hilang dan menipis dalam diri kita; yaitu rasa cinta kepada Allah…
Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Pokok dan ruh ketauhidan adalah memurnikan rasa cinta untuk Allah semata, dan hal itu merupakan pokok penghambaan dan penyembahan kepada-Nya. Bahkan, itulah hakekat dari ibadah. Tauhid tidak akan sempurna sampai rasa cinta seorang hamba kepada Rabbnya menjadi sempurna, dan kecintaan kepada-Nya harus lebih diutamakan daripada segala sesuatu yang dicintai. Sehingga rasa cintanya kepada Allah mengalahkan rasa cintanya kepada selain-Nya dan menjadi penentu atasnya, yang membuat segala perkara yang dicintainya harus tunduk dan mengikuti kecintaan ini yang dengannya seorang hamba akan bisa menggapai kebahagiaan dan kemenangannya.” (al-Qaul as-Sadid Fi Maqashid at-Tauhid, hal. 95)
Kalau demikian keadaannya, maka solusi untuk bisa menggapai ketenangan jiwa melalui dzikir adalah dengan menumbuhkan dan menguatkan rasa cinta kepada Allah. Dan satu-satunya jalan untuk mendapatkannya adalah dengan mengenal Allah melalui keagungan nama-nama dan sifat-sifat-Nya dan memperhatikan kebesaran ayat-ayat-Nya, yang tertera di dalam al-Qur’an ataupun yang berwujud makhluk ciptaan-Nya. Syaikh Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya rasa cinta kepada sesuatu merupakan cabang dari pengenalan terhadapnya. Maka manusia yang paling mengenal Allah adalah orang yang paling cinta kepada-Nya. Dan setiap orang yang mengenal Allah pastilah akan mencintai-Nya. Dan tidak ada jalan untuk menggapai ma’rifat ini kecuali melalui pintu ilmu mengenai nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya. Tidak akan kokoh ma’rifat seorang hamba terhadap Allah kecuali dengan berupaya mengenali nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang disebutkan di dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah…” (Mu’taqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Tauhid al-Asma’ wa as-Shifat, hal. 16)
Hati seorang hamba akan menjadi hidup, diliputi dengan kenikmatan dan ketentraman apabila hati tersebut adalah hati yang senantiasa mengenal Allah, yang pada akhirnya membuahkan rasa cinta kepada Allah lebih di atas segala-galanya (lihat Mu’taqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Tauhid al-Asma’ wa as-Shifat, hal. 21). Di sisi yang lain, kelezatan di akherat yang diperoleh seorang hamba kelak adalah tatkala melihat wajah-Nya. Sementara hal itu tidak akan bisa diperolehnya kecuali setelah merasakan kelezatan paling agung di dunia, yaitu dengan mengenal Allah dan mencintai-Nya, dan inilah yang dimaksud dengan surga dunia yang akan senantiasa menyejukkan hati hamba-hamba-Nya (lihat ad-Daa’ wa ad-Dawaa’, hal. 261)
Banyak orang yang tertipu oleh dunia dengan segala kesenangan yang ditawarkannya sehingga hal itu melupakan mereka dari mengingat Rabb yang menganugerahkan nikmat kepada mereka. Hal itu bermula, tatkala kecintaan kepada dunia telah meresap ke dalam relung-relung hatinya. Tanpa terasa, kecintaan kepada Allah sedikit demi sedikit luntur dan lenyap. Terlebih lagi ‘didukung’ suasana sekitar yang jauh dari siraman petunjuk al-Qur’an, apatah lagi pengenalan terhadap keagungan nama-nama dan sifat-Nya. Maka semakin jauhlah sosok seorang hamba yang lemah itu dari lingkaran hidayah Rabbnya. Sholat terasa hampa, berdzikir tinggal gerakan lidah tanpa makna, dan al-Qur’an pun teronggok berdebu tak tersentuh tangannya. Wahai saudaraku… apakah yang kau cari dalam hidup ini? Kalau engkau mencari kebahagiaan, maka ingatlah bahwa kebahagiaan yang sejati tidak akan pernah didapatkan kecuali bersama-Nya dan dengan senantiasa mengingat-Nya.
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Akan tetapi ternyata kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, sementara akherat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. al-A’la: 16-17). Allah juga berfirman mengenai seruan seorang rasul yang sangat menghendaki kebaikan bagi kaumnya (yang artinya), “Wahai kaumku, ikutilah aku niscaya akan kutunjukkan kepada kalian jalan petunjuk. Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (yang semu), dan sesungguhnya akherat itulah tempat menetap yang sebenarnya.” (QS. Ghafir: 38-39) (lihat ad-Daa’ wa ad-Dawaa’, hal. 260)
Apabila engkau menangis karena ludesnya hartamu, atau karena hilangnya jabatanmu, atau karena orang yang pergi meninggalkanmu, maka sekaranglah saatnya engkau menangisi rusaknya hatimu… Allahul musta’aan wa ‘alaihit tuklaan.
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id
di kutip dari
https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=719341121474101&id=577806108960937&substory_index=0
Kamis, 09 Oktober 2014
Menulislah Jika Tubuh Terasa Sakit Karena Bisa
Austin, Jika merasa sakit atau ada sesuatu yang salah pada tubuh Anda, sebaiknya tuliskanlah keluhan-keluhan tersebut dalam kata-kata positif pada diary atau blog pribadi Anda. Studi membuktikan menulis punya kekuatan untuk penyembuhan dan meringankan penyakit.
Inilah yang dilakukan survivor kanker yang juga seorang penulis, Amanda Enayati. Saat didiagnosis kanker, hal pertama yang ia lakukan adalah menelepon suami dan keluarganya, karena ia merasa tak bisa menanggung kesedihan sendiri.
Kemudian hal kedua yang dilakukannya adalah menulis di blog dengan tulisan yang diberi judul ‘The Second Half of My Life’.
Berikut adalah kata-kata yang Amanda tulis dalam beberapa menit pertama:
Anda mungkin tidak akan percaya hidup saya. Dalam cahaya tertentu ini akan terbaca seperti sebuah ensiklopedia dari tragedi: revolusi, penyakit, isolasi, disfungsi, terorisme, kegagalan dan penarikan (withdrawal). Sebelum Anda pergi, biarkan saya juga memberitahu bahwa jika Anda bertemu saya, Anda mungkin berpikir saya adalah orang bahagia yang tidak pernah hidup.
“Menulis itu otomatis, intuitif (mengikuti kata hati) dan hampir tidak sadar bagi saya. Tetapi karena waktu berlalu, saya merasa yakin bahwa hal itu telah membantu menyelamatkan hidup saya, meskipun saya tidak berani mengungkapkannya karena takut terdengar tidak rasional,” jelas Amanda Enayati, seperti dilansir CNN, Jumat (1/7/2011).
Menurutnya, menulis adalah kebutuhan dasar manusia untuk menceritakan sebuah cerita, termasuk cerita hidupnya. Hal ini bisa mengurangi tingkat stres yang akhirnya bisa meringankan penderitaan yang dirasakannya.
Sebuah studi yang dilakukan Dr. James Pennebaker, profesor dan ketua Departemen Psikologi di University of Texas di Austin, juga menemukan korelasi antara pengalaman traumatis dan peningkatan jumlah masalah kesehatan.
“Stres mayor dalam hidup mempengaruhi kesehatan fisik. Sama sekali tidak ada keraguan bahwa memiliki pergolakan yang serius dalam hidup Anda dikaitkan dengan perubahan biologis yang berpotensi merugikan, seperti peningkatan aktivitas kardiovaskular, menurunkan fungsi kekebalan tubuh, peningkatan risiko serangan jantung,” ujar Dr. Pennebaker.
Pada studi pertamanya yang diterbitkan tahun 1986, Dr. Pennebaker mempelajari bagaimana menulis dan mengungkapkan trauma yang dirahasiakan dapat membantu meringankan penyakit seseorang.
Dr. Pennebaker membuat dua kelompok yang dibagi menjadi kelompok yang menuliskan keluhan atau traumanya dan kelompok kontrol sebagai pembandingnya.
Hasilnya, enam bulan berikutnya kelompok yang menuliskan kisah traumatisnya mengalami penurunan tingkat penyakit dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak menuliskan kisah traumatisnya.
Dalam studi lain pada tahun 1990-an, orang dengan AIDS yang menuliskan kisah tentang diagnosa dan bagaimana AIDS mempengaruhi kehidupannya, ternyata bisa mengalami peningkatan yang bermanfaat dalam jumlah sel darah putih dan penurunan virus.
Studi demi studi yang dilakukan Dr. Pennebaker membuatnya menyimpulkan bahwa menuliskan pengalaman negatif dalam kata-kata tampaknya memiliki efek positif pada fisik dan juga psikologis.
Dr. Pennebaker juga mempelajari bagaimana nuansa cara menulis dapat membantu orang untuk sembuh. Salah satunya yang mampu menuliskan hal-hal positif dalam tulisannya, seperti ‘cinta’, ‘peduli’, ‘bahagia’ dan ‘sukacita’, yang tampaknya lebih bermanfaat daripada yang lain.
“Bahkan jika orang mengatakan ‘tidak ada yang peduli dengan saya’ atau ‘saya tidak mencintai siapa pun,’ yang berarti mereka masih memikirkan dimensi kebahagiaan. Lebih baik mengatakan ‘Anda tidak puas’ daripada mengatakan ‘Anda sedang sedih’,” jelas Dr. Pennebaker.
Penelitian lain juga dilakukan Nancy Morgan dari Georgetown’s Lombardi Cancer Center. Pada saat ia menciptakan program menulis ekspresif di Lombardi pada tahun 2001, ia telah kehilangan ibu dan suaminya karena kanker.
Melalui program tersebut dia mengadakan workshop penulisan untuk pasien, pendeta, perawat, pekerja sosial dan mahasiswa kedokteran. Penelitian Morgan menunjukkan korelasi yang signifikan antara ekspresi diri dan cara pasien kanker berpikir tentang penyakit mereka, serta perbaikan fisik tertentu pada kesehatan mereka.
“Yang mengejutkan saya adalah kesamaan dalam menulis. Hampir setiap orang yang menguraikan shock saat menerima diagnosis kanker hingga beberapa tingkat penerimaan suatu bentuk rasa syukur dari beberapa transformasi tertentu dalam hidupnya,” jelas Morgan.
Pengertiannya adalah, lanjut Morgan, ‘kanker bukan hadiah’ tetapi mengajarkan bagaimana pasien menghargai karunia dalam hidup mereka.
“Para pasien tampaknya menemukan jalan keluar dari kegelapan dan saya percaya menulis membantu mereka melakukan itu,” ujar Morgan.
<
(mer/ir) Merry Wahyuningsih – detikHealth
di kutip dari http://www.yhs.net/menulislah-jika-tubuh-terasa-sakit-karena-bisa-menyembuhkan/
(mer/ir) Merry Wahyuningsih – detikHealth
di kutip dari http://www.yhs.net/menulislah-jika-tubuh-terasa-sakit-karena-bisa-menyembuhkan/
Menulis Itu Sehat
Oleh: Agung Praptapa
“Menulislah setiap hari maka kulitmu akan segar”, demikian dikatakan oleh Fatimah Mernissi, seorang penulis dan sosiolog wanita dari Maroko. Fatimah menambahkan bahwa menulis akan meningkatkan aktifitas sel. Menulis juga akan menjernihkan pikiran karena saat menulis pikiran kita akan terfokus pada tulisan tersebut sehingga kesempatan untuk berfikir tentang kegelisaan diri berkurang. Pikiran yang segar akan merangsang kesegaran kulit juga, demikian kurang lebih logikanya, sehingga menulis secara rutin akan membuat kulit menjadi segar. “Menulislah demi kecantikan kita” katanya. Fatimah yang seorang feminis ini bahkan menegaskan bahwa menulis lebih baik dari pada operasi pengencangan wajah maupun krim pelembab kulit.
Dr. James Pennebaker dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa menulis akan meningkatkan kekebalan tubuh (immune system). Pada tahun 1986 Pennebaker dan rekannya Sandra Beall mengadakan riset di University of Texas. Mereka ingin mengetahui seberapa jauh hubungan kegiatan menulis dengan kesehatan, dengan melakukan pengamatan terhadap kegiatan menulis mahasiswa. Mereka mengukur seberapa aktif mahasiswa menulis dan dihubungkan dengan seberapa sering mereka sakit, yang diukur dengan seberapa sering mereka berobat ke klinik. Dalam riset tersebut disimpulkan bahwa seseorang yang lebih sering menulis lebih jarang sakit. Dasar teori Pennebaker bermula dari pemikiran bahwa menulis akan mengurangi kegelisahan. Menulis akan membuat seseorang lebih tenang dan tidak cepat merasa lelah. Kegelisahan membutuhkan energi yang sangat banyak sehingga energi yang seharusnya digunakan untuk membangun sistem kekebalan tubuh akan tersedot untuk memerangi kegelisahaan. Akibatnya, sistem kekebalan tubuh tidak berjalan dengan sempurna. Dengan menulis, seseorang akan lebih tenang dan kegelisahan bisa teredam. Akibatnya, energi yang sedianya digunakan untuk meredam kegelisahan bisa terkumpul untuk membangun sistem kekebalan tubuh. Dengan demikian, maka dengan menulis seseorang akan memiliki kekebalan tubuh yang semakin baik.
Pendapat dua tokoh tersebut cukup menegaskan hipotesis saya bahwa “menulis itu sehat”. Sehat jasmani maupun sehat rohani. Mengapa menulis itu menyehatkan? Bagaimana cara menulis yang menyehatkan? Mari kita bahas bersama sama di sini.
Mengapa Menulis Menyehatkan? Saat menulis, perhatian kita mau tidak mau harus terfokus kepada menyusun kalimat demi kalimat. Setelah satu kalimat selesai kita susun, kita akan menyusun kalimat selanjutnya sehingga nantinya akan membentuk paragraf, dan akhirnya akan terbentuk suatu tulisan utuh. Lihat saja ada berapa keberhasilan yang kita peroleh? Menyelesaikan kalimat pertama berarti keberhasilan yang pertama. Menyelesaikan kalimat kedua berarti kita membuat lagi keberhasilan yang ke dua. Demikian seterusnya. Jadi menulis kalimat demi kalimat sama saja sedang mengumpulkan keberhasilan demi keberhasilan. Padahal, seseorang yang sering berhasil akan meningkat kepercayaan dirinya. Orang yang percaya diri akan lebih tenang, lebih pasti langkahnya, lebih tajam sorot matanya dan lebih cerah mukanya. Dengan kata lain, menulis akan memupuk kepercayaan diri. Kepercayaan diri akan menyehatkan jiwa seseorang, sehingga dapat kita katakan menulis itu menyehatkan.
Menulis akan mendorong kita untuk berkonsentrasi kepada topik. Saat kita menulis tentang ‘membangun kepercayaan diri’ misalnya, secara otomatis perhatian kita akan terfokus pada masalah diseputar bagaimana membangun kepercayaan diri. Karena perhatian kita terfokus kepada masalah ini, maka kita akan sejenak melupakan kegelisahan kita, kekecewaan kita, kemarahan kita dan hal-hal negatif lainnya yang kita paksa untuk “parkir” dulu karena kita sedang mendahulukan kepada masalah yang sedang menjadi perhatian kita, yaitu topik yang sedang kita tulis. Jadi dengan menulis kita tidak perlu lagi mencari obat penenang untuk meredam kegelisahan kita. Kegiatan menulis akan membawa kita ke keasyikan tersendiri, sehingga maaf, kegelisahan dan teman-temannya harus pergi dulu dari diri kita. Bisa saja kita bahkan melupakan kegelisahan kita. Nah, menulis menyehatkan bukan?
Menulis mendorong kita untuk selalu berfikir. Mau tidak mau kita harus berpikir “Apa lagi ya yang harus aku tulis setelah ini?”, “What’s next?”. Seperti halnya otot yang semakin dilatih akan semakin kuat, semakin kita berfikir otak kita juga akan semakin terlatih dan semakin kuat. Otak kita jadi sehat. Kita akan tidak cepat pikun. Jadi, kalau ingin tidak cepat pikun, kuncinya adalah jangan pernah malas berfikir. Biar tidak malas berfikir, menulislah. Mau gak cepat pikun? Menulislah!
Menulis sering dijadikan alat untuk mengungkapkan perasaan. Rasa marah, penyesalan, dendam, kegundahan dan perasaan negatif yang ada pada diri kita sering kita tumpahkan melalui tulisan. Dengan menumpahkan kepada suatu tulisan, kita pada prinsipnya mendapatkan teman berkomunikasi, yaitu diri kita sendiri dan calon pembaca yang kita tuju. Adanya saluran komunikasi ini akan memberikan jalan keluar dari tekanan perasaan negatif. Kalau kita ibaratkan perasaan negatif tersebut adalah air keruh yang ada dalam kantong plastik, kalau tidak kita salurkan maka kantong plastik tersebut bisa pecah dan air keruh tersebut akan mengotori batin kita. Dengan menulis, kita mendapatkan saluran pembuangan untuk membuang perasaan negatif tersebut keluar dari diri kita. Bahkan sering pula dengan menulis kita bahkan menemukan jalan keluar yang jitu, yang tidak kita pikirkan sebelumnya. Nah, dengan demikian menulis akan membersihkan batin kita. Perasaan kita menjadi “plong”, sehat dan segar sehingga kita memiliki kesempatan untuk memikirkan dan melakukan hal-hal lain yang lebih sehat. Jadi, agar perasaan menjadi “plong”, menulislah.
Menulis Juga Menyembuhkan Saya terkesima dengan sebuah tulisan yang menceritakan bagaimana seorang yang memiliki komplikasi lima penyakit bisa sembuh total dengan metoda penyembuhan yang ia yakini efektif, yaitu melalui menulis. Penderita penyakit tersebut adalah Gatut Susanta, seorang Insinyur Sipil, warga Bogor kelahiran Madiun. Pria yang saat itu berusia 43 tahun tersebut mengidap lima penyakit sekaligus yaitu hepatitis, gagal ginjal, pengentalan darah, penyempitan pembuluh otak, dan infeksi kandung kemih. Dalam wawancaranya dengan Media Indonesia (terbitan 24 Juli 2008) Gatut mengatakan bahwa penyakit yang dideritanya sejak Februari 2005 tersebut sembuh total dengan metoda penyembuhan menulis setiap hari. Menurut Gatut, menulis membuatnya tenang, menerima dengan ihlas apa yang dialaminya, mensyukuri apa yang Ia dapatkan, dan memberikan semangat yang luar biasa untuk sembuh. Penyakit yang dideritanya akhirnya sembuh dan 15 buku berhasil Ia tulis.
Pengalaman Gatut tersebut membuat hipotesis saya bahwa “menulis itu sehat” lebih ditegaskan lagi bahwa bahkan menulis tersebut bisa menyembuhkan. Banyak penyakit fisik yang bermula dari masalah psikis seperti kegelisahan, kekuatiran, ketakutan, kebencian, dan masalah psikis lainnya. Menulis akan mengurangi bahkan dapat menyembuhkan penyakit psikis. Kejiwaan yang sehat akan mendorong sel-sel tubuh kita bekerja dengan baik. Antibodi kita akan bekerja dengan efektif sehingga badan kita juga akan menjadi sehat. Jadi, memang tidak berlebihan kalau menulis itu juga bisa menyembuhkan.
Terapi Menulis Apabila kita sefaham bahwa “menulis itu menyehatkan”, atau bahkan “menulis itu menyembuhkan”, maka tidak berlebihan nampaknya kalau kita menulis demi kesehatan dan kesembuhan kita. Saya kira tidak berlebihan pula apabila menulis bisa dijadikan cara alternatif untuk pengobatan. Sehingga pada suatu saat mungkin akan muncul “terapi menulis”. Mau sehat? Mau sembuh dari penyakit yang Anda derita? Menulislah!
*) Agung Praptapa adalah seorang dosen, konsultan manajemen dan akuntansi, serta trainer di bidang pengembangan diri dan organisasi. Penulis buku “The Art of Controlling People” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, tahun 2009 ini aktif menulis setelah bergabung dengan Proaktif Shoolen Network. Sampai saat ini ia aktif menjadi pembicara di dalam negeri maupun di luar negeri. Email: praptapa@yahoo.com.
dkutip dari travel talks.
dkutip dari travel talks.
Senin, 03 Maret 2014
sebuah ilmu yang bermanfaat ketika ilmu itu diaplikasikan, tidak dibiarkan bersemayam dalam memory hingga akhirnya akan menghilang begitu saja... ada banyak cara agar ilmu itu terus bermanfaat...
1. selalu belajar-belajar
2. membagi ilmu itu lewat tulisan, yah bisa saja esok atau lusa ada yang membacanya
3. mengajarakan secara langsung ke personal, orang-orang disekitar kita
4. yang paling utama diaplikasikan untuk diri kita
ketika dikaitkan dengan kesehatan yah otomatis ada, apa itu ketika otak terus diasah, belajar, dan disebarkan ilmu itu maka respon memory akan semakin bagus, bisa mengurangi percepatan kepikungan atau penyakit sejenisnya yang berhubungan dengan otak. memory kerja akan terus bekerja.
1. selalu belajar-belajar
2. membagi ilmu itu lewat tulisan, yah bisa saja esok atau lusa ada yang membacanya
3. mengajarakan secara langsung ke personal, orang-orang disekitar kita
4. yang paling utama diaplikasikan untuk diri kita
ketika dikaitkan dengan kesehatan yah otomatis ada, apa itu ketika otak terus diasah, belajar, dan disebarkan ilmu itu maka respon memory akan semakin bagus, bisa mengurangi percepatan kepikungan atau penyakit sejenisnya yang berhubungan dengan otak. memory kerja akan terus bekerja.
Langganan:
Postingan (Atom)